Halaman Muka

Minggu, 27 April 2014

Women With Breast Cancer Who Consume Soy Food Have Lower Risk of Cancer Recurrence

Although there is a concern regarding the safety of soy food consumption among breast cancer survivors, researchers have found that women in China who had breast cancer and a higher intake of soy food had an associated lower risk of death and breast cancer recurrence, according to a study in the December 9 issue of JAMA.

"Soy foods are rich in isoflavones, a major group of phytoestrogens that have been hypothesized to reduce the risk of breast cancer. However, the estrogen-like effect of isoflavones and the potential interaction between isoflavones and tamoxifen have led to concern about soy food consumption among breast cancer patients," the authors write.

Xiao Ou Shu, M.D., Ph.D., of Vanderbilt University Medical Center, Nashville, Tenn., and colleagues examined the association between soy isoflavone intake with breast cancer recurrence and survival. The researchers analyzed data from the Shanghai Breast Cancer Survival Study, a large, population-based study of 5,042 female breast cancer survivors in China. Women ages 20 to 75 years with diagnoses of breast cancer between March 2002 and April 2006 were recruited and followed up through June 2009. Information on cancer diagnosis and treatment, lifestyle exposures after cancer diagnosis, and disease progression was collected at approximately 6 months after cancer diagnosis and was reassessed at three follow-up interviews conducted at 18, 36, and 60 months after diagnosis. A Shanghai Vital Statistics Registry database was used to obtain survival information for participants who were lost to follow-up.

The 10 Golden Rules of Communication

How to get the most out of people, and give the most back

Whether you're a psychologist, business person, or simply an attentive spouse or friend, the rules of good communication are very much one and the same. Good communication involves two things, listening and talking, and there are just five golden rules for each. This sounds pretty basic, but many people forget that good communication involves listening as well as talking. It could even be argued that listening is the more important of the two: how can you know what to say unless you first know what your audience wants or needs to hear ? 

Minggu, 20 April 2014

Maybe You Should Be Angry

by Mary C. Lamia, Ph.D
Anger is a good emotion that sometimes goes badly

Perhaps your flight is considerably delayed; the team you've supported for years is getting humiliated on the field; your insurance company has rejected a claim for a ridiculous reason; or, you saw a provocative text on your partner's cell phone. In any case, you're angry. Anger deserves appreciation. Designed to produce action in response to the violation of social norms or to remedy situations that are wrong, anger alerts you to circumstances that are unjust and tells you that you're having a reaction to something that should not be as it is. Often anger is conceptualized as a disruptive emotional force, but it is meant to be an adaptive internal signal that cues self-protective action. Actually, anger is a good emotion that sometimes is misunderstood or irrationally misused.

Gagal dan Sukses

Setiap orang yang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Hal itulah yang mungkin tidak pernah kita ingat. Yang akan selalu diingat adalah kisah sukses mereka saat ini. Sudah tak terbilang banyaknya, kisah orang yang sukses berawal dari kegagalan-kegagalan yang berulang ulang. Terkadang saya ingat pesan boss saya dahulu : "... hanya orang gila yang berharap perubahan dengan cara yang selalu sama untuk mendatangkan perubahan tersebut..."
Kita pasti pernah mengalami kegagalan. Dan mungkin, kita selalu bertanya-tanya, “Mengapa yang kita temui hanyalah jalan buntu dan berbagai kegagalan?”, “Apakah kita sial?”, “Apakah memang kita ditakdirkan untuk tidak sukses?”. Bahkan ada juga rekan atau atasan Kita yang sampai bilang : "... Kamu koq gagal terus.. Sebaiknya cepat di-ruwat agar kesialan cepat berlalu..." hmmm... cape dech..hari gini masih percaya yang begituan.

Minggu, 13 April 2014

Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?


Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan yang cerdas, bukan? Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh dilewati oleh kita saja. 

How to Thrive Under Stress


The year 1975 holds a lofty place in the annals of stress research. That was when the Federal government decided to deregulate the telephone business, which at the time was a monopoly held by AT&T. Recognizing the opportunity to observe the effects of mass stress, Salvatore Maddi, a professor of psychology at UC Irvine, began a 12-year project to track the fate of 450 managers at a Chicago subsidiary. What he found upended basic ideas about human psychology and paved the way for a whole new perspective on stress.
When the breakup took place in 1981, half of the company’s employees were laid off. For two-thirds of them, the transition was traumatic. Many were unable to cope. They died of heart attacks and of strokes, engaged in violence, got divorced, and had mental health issues. But the other third didn’t fall apart. Their lives actually improved. Their health got better, their careers soared, and their relationships blossomed. The finding was revolutionary. “The general idea at the time was that you should stay away from stress because it can kill you,” Maddi recalls. “But it turned out that some people thrive on it.” What made these people different? Sifting through his data, Maddi discerned a trend.

Berpikir Kecil

~Ralph Lynn~
TETAP FOKUSKAN DIRI KITA 
PADA PIKIRAN-PIKIRAN
YANG POSITIF DAN MENYENANGKAN

Kita masih percaya itu? Bisa iya. Bisa juga tidak, sih. Yang jelas, dengan berpikir besar kita terdorong untuk menjadi pribadi besar dengan pencapaian yang besar. Kita sudah sejak lama memahami hal itu. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melakukan sebuah eksperimen yang sebaliknya. Apakah itu? Berpikir kecil. Lho, kok berpikir kecil? Bukankah semua orang ingin menjadi besar dan sangat mendambakan ukuran yang besar-besar? Betul, tetapi faktanya kita sering sekali membutuhkan yang kecil-kecil. Bahkan ketika sedang berhadapan dengan suatu masalah, kita dinasihatkan, jangan membesar-besarkan hal yang kecil-kecil. 

Kegandrungan kita terhadap teknologi nano adalah fakta tidak terbantahkan lainnya bahwa semakin hari, kebutuhan manusia semakin mengarah kepada "hal-hal yang kecil". Sebagian besar perangkat pendukung kehidupan kita dibuat menjadi semakin kecil, semakin compact, dan semakin percayalah kita bahwa semuanya semakin sesuai dengan kebutuhan kita yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, sesungguhnya saat ini tengah terjadi "revolusi" dimana "yang kecil" mengambil alih peran dominan "yang besar". Dalam cara berpikirpun, sudah saatnya kita menyesuaikan diri dengan arus "revolusi" itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya bereksperimen dengan cara berpikir kecil.

Minggu, 06 April 2014

The Human Body From Head To Toe

photo by hang in there
Astounding facts about the human body you never knew

One of the reasons I was drawn to medicine is that I've always been fascinated by the workings of the human body on all its levels. Truly, nothing in nature stands as its equal—flaws and all (and there are a few). So I thought today I'd share just a few of the fascinating facts about the way the human body works that many people don't know. 

Negosiasi

thinkstock.com
Anda pasti sering bernegoisasi? Tentu iya, negoisasi bisa dilakukan saat kamu menginginkan sesuatu dari orang tua, atau meminta teman untuk melakukan sesuatau ataupun saat membeli sesuatu di pasar tradisional. Negoisasi juga erat kaitanya saat kamu harus berkerja sama dengan pihak lain, kita membutuhkan pihak lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan atau menutupi kekurangan yang kita miliki.

Negosiasi merupakan suatu keterampilan komunikasi, karena didalamnya kita menyatakan pesan dan melakukan pendekatan secara khusus kepada pihak lain untuk mendapatkan tujuan tertentu. Secara sederhana negosiasi terjadi bila orang lain memiliki apa yang kita inginkan dan kita bersedia menukarnya dengan apa yang diinginkan mereka. Negoisasi ini bertujuan untuk menemukan suatu kesepakatan kedua belah pihak secara adil, dapat memenuhi harapan kedua belah pihak, atau berguna untuk mendapatkan sebuah keuntungan dan atau menghindari kerugian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...